KOTA TERPIDANA
Oleh: Ridwan H Mukhtar Pengamat Sosial, Budaya dan Peradaban Aceh
Sejenak ke Athena, di pulau Corfu di tapal batas Yunani yang membasahkan ilmu pengetahuan dengan mitologi dan perumpamaan adalah imajinasi budaya. Seperti juga Kuta Raja (kota Banda Aceh). Di mana di kedua tempat tersebut kebudayaan baik pelaksanaan dan makna sering didedah, dipertarungkan dan dirayakan. Tapi itu dulu -- bagi Kuta Raja. Seolah ada ingatan yang mengharuskan napak tilas panjang dan mengharukan dalam membaca sebait peradaban lalu.
***
Athena adalah Dewi pelindung. Kota artefak itu berusia lebih dari tiga abad. Mitologi dan umpama, baik cerita tentang setengah manusia berkepala banteng yang terjebak dalam sebuah labirin tak berpintu keluar yang melumat siapa saja yang tersesat di dalamnya hingga kisah tentang seorang Dewa yang begitu mencintai dirinya, telah begitu arif memberikan peringatan kepada siapa saja yang mencoba-coba ingin berkuasa bahkan kepada raja di raja abad Milenium.
Kuta Raja adalah kota tua para Raja-raja. Begitu faktanya. Tempat pertapaan yang seolah-olah abadi dan sah menjadi pusat tahta dan titah bahkan sabda-sabda. Berabad-abad Kuta Raja sah menjadi kota tua. Adalah Belanda mengajarkan paruh budaya; dari diskriminasi, sampai jiwa yang tak tertaklukkan. Banyak yang terkubur disini, ada yang terusir jiwanya: dalam aroma amis darah dan asap mesiu. Bekas dan tilas kaki naga, dari laut dan gunung masih tersisa disini. Sisa-sisa yang tertinggal adalah semacam ingatan saja, tentang budaya yang lupa kita rumuskan bagaimana bentuknya.
Seperti kuburan tua para raja, para syuhada, Kerkoff, Museum dan Rumah Aceh, onggokan gerbong kereta api, Novotel Aceh yang hilang (barangkali kelak Mesjid Raya Baiturrahman), dan penjara Keudah -- adalah sisa-sisa yang mampu menggambarkan peradaban, budaya. Katanya ya !.
***
Atau Keudah adalah pindaian kata atas ketidakpercayaan diri, atas kemiskinan akan nama. Seperti Gapura, Kampung Kleng, Kampung Jawa, Kampung Pande, lamteeh, lampoh daya, lampadang, Indrapuri bahkan benteng Indrapatra. Nama-nama datang dari mana-mana. Kemudian hilang tak tersisa. Konflik, tsunami menumpuk dalam ingatan. Ada yang berat dan sarat. Sebentuk beban yang tertarik, terseret jauh ke hulu. Terkadang seperti pengandaian ingatan romantiknya masa lalu, dan sekarang cukup dengan mematung diri, memuluskan mimpi-mimpi. Sehingga mendefinisikan sisa-sisa kebudayaan, peradaban begitu susahnya.
Seperti merumuskan keadilan Iskandar Muda yang menghukum Meurah Pupok hingga terpenggal nyawa. Ah, begitu susahnya sejarah itu, begitu susahnya Kebudayaan itu, peradaban kehilangan bentuk, menjadi tak empiris apalagi ilmiah. Tapi siapa yang peduli? Bukankah sejarah itu perlu, bukankah sejarah itu butuh kesaksian, butuh pengakuan, bukankah kebenaran sejarah dimenangkan oleh kekuasaan?. Sejarah sepertinya sering benar dan datang dari kekuasaan. Orang-orang seperti dimabuk kepayang, banyak keliaran pikiran memabukkan sejarah. Kemudian benarlah atas nama kebudayaan atau peradaban menjadikannya landasan pijak yang berkerikil.
***
Atau karena keterlanjuran kota menjadi pusat pertapaan bagi sang raja, maka menjadikannya bahagian kebudayaan. Bagi raja kekuasaan atas tanah hampir tak terbatas, sehingga kaum marginal, jelata, nyak-nyak terus mencari kampung budayanya. Ditengah kelaparan yang membelit dan terampas. Ditengah kekuasaan dan kokohnya tahta para raja-raja, kebudayaan dan peradaban hampir tak dipahami oleh mereka. Kebudayaan jelata telah dikorup. Tak ada tempat, ruang dan waktu bagi Lamit (Budak) sang raja.
Kaum jelata terpaksa terpinggirkan ke bantaran sungai Krueng Aceh, Krueng Daroy yang penuh sampah dan bangkai kucing mati karena kelaparan. Maka terkutuklah sang raja yang terus melebarkan singgasana hingga menghimpit ulu hati para budak-budak !. Kita pernah berteriak “Bukankah kaum marginal, pemuda-pemuda seudang betelanjang kaki, nyak-nyak yang menyodorkan nasi bungkus kepada laskar-laskar mujahidin, ratusan tahun lampau telah tegak berdiri menentang Belanda?. Menyusup ke tangsi, menghunus pisau dapur berkarat, dan rencong yang masih tersisa darah kesumat. Mereka pahlawan, bahagian sejarah, bahagian kebudayaan, antara harga diri dan prinsip peradaban. Mereka bukan Aceh pungoe ( gila ).
Saudara-saudara; dengan rencong, budaya kota para raja kita bela, dulu dan sepenggal zaman kemudian. Kecuali kini. Dulu, Singgasana tersepuh hati emas tak lekang dimakan zaman. Apakah kini singgasana-singgasana akan menindih-gilas generasi mereka, para syuhada ?”
***
Sepertinya budaya kota para raja tak lagi menebar cinta. Kota seperti tanpa puisi. Kota hanya menjadi kelindan kesepakatan jiwa-jiwa yang meneguhkan ke-aku-an. Seperti tanah kosong atau kuburan. Milik semua orang yang mencari kematian. Banyak mulut yang berdo’a, sementara tangannya berlumur darah. Bahasa tak bersuku-kata, kata-kata begitu keras terucap. Luka-luka telah lama menjadi jurang pemisah. Mungkin kuta radja telah sah menjadi gampoeng global dan budaya yang palsu.
Budaya kekuasaan menjadi korup. Jelata telah lama menjadi budak. Kekuasaan telah menistakan perut lapar yang mestinya terisi. Perut jelata adalah lahan untuk menumpuk keserakahan penguasa. Atas nama kemiskinan, atas nama perekonomian yang tak berdaya, anak yatim yang tergolek dibawah tenda, para perompak datang dari segala penjuru angin, tak henti-henti merampas hak mereka. Kekuasaan telah menjerumuskan kebahagian mereka ke jurang yang nista. Jelata tetap nista, kekuasaan masih tersepuh emas. Kekuasaan di tangan para raja. Jelata yang lapar kini terkurung dalam kota tanpa puisi. Selepas deru peluru dan laras, setelah ganasnya tsunami.
***
Hari-hari terakhir terbetik kabar ikhwal pelayaran para raja di kota tanpa puisi; atas nama jelata mereka sedang menelan api neraka, buah khuldi, dan simalakama. Terbetik kabar pula banyak handai taulan yang meneguhkan hati mereka, menertawakan mereka. Tak jerakah para para raja-raja? Penjara, bagi Tuan, tak hanya mengurung raga tapi menistakan jiwa. Sepertinya tidak!, maka sejarah akan mencatatnya. Bukankah pelayaran para raja-raja terdahulu telah diteguhkan untuk menelan mentah-mentah budaya yang dikorup, budaya milik Kekuasaan, maka apapun yang mereka lakukan menjadi sah tanpa harus muntah?
Lalu dengan apa jelata merayakan berita yang terpetik itu?. Atas nama kelaparan, kemiskinan, pengangguran; wahai jelata, rayakanlah derita ini dengan kebahagiaan. Karena yang tersisa itu adalah kebahagiaan yang selama ini dirampas dan ditelan oleh para raja. Saudara-saudara; Maka lihatlah jelata yang berbahagia karena Kota Tanpa Puisi ini telah berganti nama menjadi Kota Para Terpidana!.***
***
Athena adalah Dewi pelindung. Kota artefak itu berusia lebih dari tiga abad. Mitologi dan umpama, baik cerita tentang setengah manusia berkepala banteng yang terjebak dalam sebuah labirin tak berpintu keluar yang melumat siapa saja yang tersesat di dalamnya hingga kisah tentang seorang Dewa yang begitu mencintai dirinya, telah begitu arif memberikan peringatan kepada siapa saja yang mencoba-coba ingin berkuasa bahkan kepada raja di raja abad Milenium.
Kuta Raja adalah kota tua para Raja-raja. Begitu faktanya. Tempat pertapaan yang seolah-olah abadi dan sah menjadi pusat tahta dan titah bahkan sabda-sabda. Berabad-abad Kuta Raja sah menjadi kota tua. Adalah Belanda mengajarkan paruh budaya; dari diskriminasi, sampai jiwa yang tak tertaklukkan. Banyak yang terkubur disini, ada yang terusir jiwanya: dalam aroma amis darah dan asap mesiu. Bekas dan tilas kaki naga, dari laut dan gunung masih tersisa disini. Sisa-sisa yang tertinggal adalah semacam ingatan saja, tentang budaya yang lupa kita rumuskan bagaimana bentuknya.
Seperti kuburan tua para raja, para syuhada, Kerkoff, Museum dan Rumah Aceh, onggokan gerbong kereta api, Novotel Aceh yang hilang (barangkali kelak Mesjid Raya Baiturrahman), dan penjara Keudah -- adalah sisa-sisa yang mampu menggambarkan peradaban, budaya. Katanya ya !.
***
Atau Keudah adalah pindaian kata atas ketidakpercayaan diri, atas kemiskinan akan nama. Seperti Gapura, Kampung Kleng, Kampung Jawa, Kampung Pande, lamteeh, lampoh daya, lampadang, Indrapuri bahkan benteng Indrapatra. Nama-nama datang dari mana-mana. Kemudian hilang tak tersisa. Konflik, tsunami menumpuk dalam ingatan. Ada yang berat dan sarat. Sebentuk beban yang tertarik, terseret jauh ke hulu. Terkadang seperti pengandaian ingatan romantiknya masa lalu, dan sekarang cukup dengan mematung diri, memuluskan mimpi-mimpi. Sehingga mendefinisikan sisa-sisa kebudayaan, peradaban begitu susahnya.
Seperti merumuskan keadilan Iskandar Muda yang menghukum Meurah Pupok hingga terpenggal nyawa. Ah, begitu susahnya sejarah itu, begitu susahnya Kebudayaan itu, peradaban kehilangan bentuk, menjadi tak empiris apalagi ilmiah. Tapi siapa yang peduli? Bukankah sejarah itu perlu, bukankah sejarah itu butuh kesaksian, butuh pengakuan, bukankah kebenaran sejarah dimenangkan oleh kekuasaan?. Sejarah sepertinya sering benar dan datang dari kekuasaan. Orang-orang seperti dimabuk kepayang, banyak keliaran pikiran memabukkan sejarah. Kemudian benarlah atas nama kebudayaan atau peradaban menjadikannya landasan pijak yang berkerikil.
***
Atau karena keterlanjuran kota menjadi pusat pertapaan bagi sang raja, maka menjadikannya bahagian kebudayaan. Bagi raja kekuasaan atas tanah hampir tak terbatas, sehingga kaum marginal, jelata, nyak-nyak terus mencari kampung budayanya. Ditengah kelaparan yang membelit dan terampas. Ditengah kekuasaan dan kokohnya tahta para raja-raja, kebudayaan dan peradaban hampir tak dipahami oleh mereka. Kebudayaan jelata telah dikorup. Tak ada tempat, ruang dan waktu bagi Lamit (Budak) sang raja.
Kaum jelata terpaksa terpinggirkan ke bantaran sungai Krueng Aceh, Krueng Daroy yang penuh sampah dan bangkai kucing mati karena kelaparan. Maka terkutuklah sang raja yang terus melebarkan singgasana hingga menghimpit ulu hati para budak-budak !. Kita pernah berteriak “Bukankah kaum marginal, pemuda-pemuda seudang betelanjang kaki, nyak-nyak yang menyodorkan nasi bungkus kepada laskar-laskar mujahidin, ratusan tahun lampau telah tegak berdiri menentang Belanda?. Menyusup ke tangsi, menghunus pisau dapur berkarat, dan rencong yang masih tersisa darah kesumat. Mereka pahlawan, bahagian sejarah, bahagian kebudayaan, antara harga diri dan prinsip peradaban. Mereka bukan Aceh pungoe ( gila ).
Saudara-saudara; dengan rencong, budaya kota para raja kita bela, dulu dan sepenggal zaman kemudian. Kecuali kini. Dulu, Singgasana tersepuh hati emas tak lekang dimakan zaman. Apakah kini singgasana-singgasana akan menindih-gilas generasi mereka, para syuhada ?”
***
Sepertinya budaya kota para raja tak lagi menebar cinta. Kota seperti tanpa puisi. Kota hanya menjadi kelindan kesepakatan jiwa-jiwa yang meneguhkan ke-aku-an. Seperti tanah kosong atau kuburan. Milik semua orang yang mencari kematian. Banyak mulut yang berdo’a, sementara tangannya berlumur darah. Bahasa tak bersuku-kata, kata-kata begitu keras terucap. Luka-luka telah lama menjadi jurang pemisah. Mungkin kuta radja telah sah menjadi gampoeng global dan budaya yang palsu.
Budaya kekuasaan menjadi korup. Jelata telah lama menjadi budak. Kekuasaan telah menistakan perut lapar yang mestinya terisi. Perut jelata adalah lahan untuk menumpuk keserakahan penguasa. Atas nama kemiskinan, atas nama perekonomian yang tak berdaya, anak yatim yang tergolek dibawah tenda, para perompak datang dari segala penjuru angin, tak henti-henti merampas hak mereka. Kekuasaan telah menjerumuskan kebahagian mereka ke jurang yang nista. Jelata tetap nista, kekuasaan masih tersepuh emas. Kekuasaan di tangan para raja. Jelata yang lapar kini terkurung dalam kota tanpa puisi. Selepas deru peluru dan laras, setelah ganasnya tsunami.
***
Hari-hari terakhir terbetik kabar ikhwal pelayaran para raja di kota tanpa puisi; atas nama jelata mereka sedang menelan api neraka, buah khuldi, dan simalakama. Terbetik kabar pula banyak handai taulan yang meneguhkan hati mereka, menertawakan mereka. Tak jerakah para para raja-raja? Penjara, bagi Tuan, tak hanya mengurung raga tapi menistakan jiwa. Sepertinya tidak!, maka sejarah akan mencatatnya. Bukankah pelayaran para raja-raja terdahulu telah diteguhkan untuk menelan mentah-mentah budaya yang dikorup, budaya milik Kekuasaan, maka apapun yang mereka lakukan menjadi sah tanpa harus muntah?
Lalu dengan apa jelata merayakan berita yang terpetik itu?. Atas nama kelaparan, kemiskinan, pengangguran; wahai jelata, rayakanlah derita ini dengan kebahagiaan. Karena yang tersisa itu adalah kebahagiaan yang selama ini dirampas dan ditelan oleh para raja. Saudara-saudara; Maka lihatlah jelata yang berbahagia karena Kota Tanpa Puisi ini telah berganti nama menjadi Kota Para Terpidana!.***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar